Puisi mengenang tragedi tsunami maumere 1992

 gelombang luka 92



1992 peristiwa sejarah dilumuri duka.

ketika harmoni disambut inang dengan senyum,

Ama sudah mendahuluinya mentari diatas pohon Koli,

waktu itu, terik seperti menukik nurani,

seisi rumah tetap sama dengan inang yang sibuk menyulam nasib di tungku api, 

ama masih sibuk mengiris pundi pundi mimpi.

angin terbirit-birit menyampaikan pesan buruk diatas pohon lontar,

jantung berdebar kaki dihujani gemetar,

ia turun takala gelombang hendak meyeka bibir pantai.

berteriak keras sambil berlari,

ohhhh

Ama Reta Lero Wulan Ina Nian Tanah Wawa

langkah kaki kanannya tergilir pedih, takala gubuk yang ia bangun dengan peluh, berdindingkan rotan dan beratapkan ayaman  lontar, luluh lantah ditelan bencana,

jantung tuanya seketika berhenti,

darah dalam nadi terus merintih,

pedih,mimpinya diselimuti gulita, meratapi sang istri yang tertindih kejamnya bencana 

gelombang belum mudik, suasana pecah oleh airmata,

nyawa seakan murah tak berharga,

hewan ternak,kayu kayu, batu batu,  telah luluh,

seng, besi kaca, beserta tubuh tenggelam pada runtuh,

semua mimpi terkubur dengan porak poranda.

siapa yang salah?

bencana bertamu tak ada yang tau.

mata air, airmata

dinding kayu, fondasi besi, berharta dan punya tahkta tak mampu berkata kata.

ini bencana, skenario sang pencipta.

bayak kehilangan orang tua, mereka yang tercinta,sanak saudara dan bahkan menjadi janda duda seketika

senja yang dulu manja penuh pesona,

kini harus memerah seperti darah,

Nian Sikka sedang berduka.

namun sesalkan mana yang mesti kita sesalkan?

sekarang kita harus berbenah,

nurani dan hati mesti di jaga jangan menjarah,

sebab bencana tak pandang rupa,. harta thakta dan jumlah dosa.

gelombang duka 92 menjadi sejarah airmata duka.

 

        By: Vidi making 

               Maumere, 12 Desember 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Osis bukan sekedar organisasi osis lebih dari itu (cerpen)

Cerpen berdasarkan realitas "MIMPI SEPERTI PELANGI"

Tersesat di tanah mahar kuda (cerpen)