Tersesat di tanah mahar kuda (cerpen)
MERANTAU DI TANAH MAHAR KUDA
Ternyata sedari tadi aku
hanya berimajinasi dan menghayal mungkin karena demamku yang terlalu tinggi
sampai-sampai semua pengelaman indah dan
hari hari yang istimewa terbayang begitu
jelas di pikiranku. Aku tersadar dan
terenyum bangga, pelangi seperti terbenam di mataku yang berkaca-kaca. Datanglah wahai kalian yang berletih lesu dan
berbenan berat…
Namaku Fredinandus
Sili Making atau biasa disapa Vidi
making oleh teman-teman.
aku adalah seorang remaja 17 tahun yang sedang menikmati masa remaja, masa masa panas mencari jati diri. memiliki empat saudari membuat kepribadianku sedikit manja seperti baju pakianku dicuci, jika makan saudariku harus membaginya dan menyuguhkannya di meja Namun, dalam perkara pekerjaan lelaki pada umumnya seperti berternak, kerja bangunan, berkebun Aku tsangatlah bias karena terlah diperbiasakan oleh Ayah sedari kecil. Namun itu dulu masih anak anak, sekarang aku telah beranjak ke masa trasinsi menuju dewasa yakni remaja. Hari-ha
riku dihabiskan bersama malam, waktu ke waktu ku habiskan di jalan sampai tubuhku legam tinggal tulang. lambung yang mulai berkubang membuat tubuhku mulai lesu, Dunia kurasa begitu bebas merdeka. tak jarang Ayah dan Ibu selalu menegur sikapku.
Ayahku adalah
seorang guru tua di salah satu sekolah dasar di kecamatan kami, ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga, namun dengan usia yang tak lagi muda, ibuku
bekerja sebagai petani musiman, peternak babi, sapi, kambing, ayam ras, ayam kampung,
dan penjual kue untuk menambah memenuhi
kebutuhan saya dan ke empat saudariku. karena Ayah melakukan keredit yang cukup
besar hingga gajinya dipotong, bahkan sampai Tiga tahun masa pensiunnya.
Aku lahir dan
tumbuh di salah satu desa gersang di timur matahari, Desa Ohe kolontobo
kecamatan ileape kabupaten Lembata. Sedangkan sekarang Aku menganyam pendidikan
di kabupaten Sikka tepatnya di SMAS Bhaktyarsa Maumere.
Senin pagi yang dingin, lonceng alarm berbunyi melengking di daun
telingaku, seperti suara gong waning yang khas, aku tersadar dari tidur yang
pulas.
”wue! Wue? Bangun
sudah, su jam ba ni, nanti suster agusta marah kita kalau terlambat ke Kapela ”
Aku dibangunkan oby, adik asramaku yang ditugaskan untuk membangunkan
kami karena gilirannya memegang alarm. Dengan mata yang masih merah penuh kotoran,
dengan tubuh kurus yang masih merindukan kantuk dan kaki yang terus gemetar dingin
oleh kipas angina merek cosmos paling berisik asrama kami. Perlahan aku turun
dari tempat tidur, tanpa membereskannya dan langsung bergegas mandi. stelah
siap aku bergegas ke Kapela untuk misa pagi dengan celana jeans longgar dan
baju kemija hitam 90 ribuan milik temanku Doni yang telah menjadi baju umun di
asrama . Yah begitulah suka duka dan rutinitas sehari-hari kami di Asrama putra
St Gabriel Maumere milik Susteran SSpS.
Dalam isi kotbah
yang dibawakan oleh seorang pater tua tak berambut dengan kacamata super Gete
atau besar dalam bahasa Maumere. ia berkata demikian;
"Ina Ama, wue
wari lu’ur dolor mogam sawen, para suster, serta anak anak yang dikasihi Tuhan
kita Yesus Kristus, Yesus pernah berkata; hai anak-anakku, datanglah wahai
kalian yang berletih lesu dan berbenan berat...." belum sempat
menyelesaikan kotbahnya seketika aku mengingat buku catatan Matematika yang
ketinggalan hari Jumat lalu, aku tak lagi berkosentrasi, bagaikan seekor semut
yang tenggelam dalam kepanikan, aku begitu tak sabar meninggalkan Kapela dan
segera ke sekolah. semua ritus yang dilaksanakan ku buat hanya sebatas simbolik
dan tanpa penghayatan seperti biasanya.
sampai sakramen Ekaristi sedang dilangsungkan,
dan masuk pada pembagian tubuh dan darah kristus. kakiku gemetar, keringat membasahi kemija ku,
sesekali ku gertakan gigi karena terlalu
kesal, lantaran antrian begitu Panjang karena jumlah anak-anak asrama Putra dan
Putri yang kurang lebih seratus orang. Setelah
sambut hosti aku langsung meninggalkan
Kapela sebelum berkat penutup dari imam,
seperti umat di paroki kami yang juga pulang pada saat perayaan paskah atau
Natal sesudah menyambut hosti. Yang saya lakukan seperti
Yudas iskariot yang ikut makan roti pada saat perjamuan malam terakhir
dan meninggalkan Yesus lalu mengkhianatinya.
Tapi Yudas tetaplah Yudas, dan aku tetaplah aku. Tapi aku berdoa dan meminta maaf kepada Tuhan ketika keluar sebelum waktunya.
Terlitas dipikiranku pasti Tuhan tau dan mengerti dengan kondisiku saat ini.
Sebelum sampai di Asrama
aku langsung melepaskan kunci lemari yang ku ikat di kalung untuk dipegang. Sampai di asrama aku bergegas membuka lemari coklat dengan gembok kuning karat dan
langsung mengambil baju nasional putih abu abu untuk dikenakan, tanpa kaos kaki
aku langsung mengunakan sepatu baruku yang sepatunya baru saja dibeli dari
tokoh oniline. Tapi uang untuk membayarnya hasil pinjaman. Bajuku tak distrika, Aku tak lagi makan atau
membereskan tempat tidur, yang ada di kepalaku hanyalah ketakutan, kecemasan
dan sesegera mungkin untuk sampai di sekolah.
Ketika sampai
di depan gerbang sekolah dengan warna
biru muda pada bangunan gapuranya, hatiku dipenuhi gelisah. mataku memandang
tajam ke ruang kelasku. Bagaikan Elang betina yang belum makan satu hari dan sedang
mengintai anak ayam untuk sarapan pagi ia dan anak-anaknya.
Aku begitu gelisah
lantaran catatan matematika itu tertinggal di atas meja kelas pada hari Jumat
lalu. gelisah dan cemas itu sama seperti kurir yang mengantar paket oniline namun
tak memiliki uang untuk membayarnya, kurasakan demikian namun kali ini
lebih dari itu. Cemas akan kehilangan Aku terus memandangi meja yang tersusun
paling depan diantara 10 meja di dalam kelas.
kegelisahan dan
perdebatan di kepala seketika pecah lantaran dikejutkan dengan klining servis
sekolah yang sedang menyapu halaman Lobi sekolah.
"tumben Vidi
pagi pagi sudah ke sekolah!"
Sambut ka Yanto
sang klinng servis dengan tubuh gemuknya.
"selamat pagi
ka Yanto, sa ada lupa barang makanya sa lebih awal ke sekolah" jawabku dengan
gugup sambil sesekali melirik ke dalam ruang kelas IPS 2.
"Barang apa
yang lupa na?" Tanya ka Yanto dengan terengah-engah dengan logat Maumere
kental nya.
"ini ka
Yanto, apa.... buku merah gambar Messi di ruang Ips 2" jawabku dengan
sepintas sambil meninggalkan ka Yanto.
Tanpa berpamitan Aku
mempercepat langkah ke dalam kelas.
harapan seketika
hancur bagaikan halaman sekolah yang baru disapu dan dikotori oleh dedaunan yang gugur diterpa
angin puting beliung.
Aku terpaku lesu
di kursi kayu yang telah goyang dengan
perasaan ketakutan, sedih dan marah, semuanya tergambar jelas pada raut
wajah dengan sesekali kaki yang terus gemetar dengan sendirinya. Ku kepalkan
tangan sambil memukul meja dan menendangi kursi, aku putus asah, dan tak mampu
berkata-kata dan seperti kehilangan nyawa laksana kapal yang hilang arah.
Bisu hening dan
pening, seperti berenang di tengah kening. rasa sakit dan letih karena catatan
itu sudah dicatat sekitar 15 halaman.
Kebetulan hari ini
ada ujian tertulis, dan persyaratan untuk mengikutinya adalah menunjukkan
catatan.
Pikiran yang
sedang melayang tiba-tiba tersadar lantaran ka Yanto mengagetkanku dengan
menendang pintu kelas yang berwarna putih pudar.
"Buku tu ka
Yanto simpan di laci meja sudut kiri belakang dekat lemari tu"
ucap ka Yanto
dengan senyum tipis.
"Ka Yanto
juga tidak kasih tau dari tadi, buat saya cemas gemetar saja" Jawabku
dengan legah bagaikan es batu yang
diletakkan pada lapangan gelora maumere.
"Saya belum
omong Vidi keburu pergi, jadi Saya urungkan niat supaya Vidi Ju panik sedikit to hahaha ..." sambung ka Yanto
sambil tertawa kecil.
"Ewa
terimakasih bayak ka Yanto, sa te tau kalau itu buku hilang berarti mati ba
saya, te akan ikut ujian dan pa Maxi Ju pasti marah besar ni"
“Iyah, lain kali
jangan buru-buru pulang untuk ketemu cewe, Maumere ni kuda dan uang harus
banyak nong. Nasehat ka Yanto sambil pergi melanjutkan pekerjaannya.
“Hmm aman wue” sekali
lagi terimakasih e!
semua kecemasan
perlahan meninggalkan tubuhku yang letih dan lesuh, ku tarik nafas panjang
sambil mengucap syukur.
Hati mulai senang
dan diri kembali tenang. Setelah mengambil catatan itu, Aku duduk dan tunduk mulai
berkonsentrasi membaca setiap halaman untuk menghafal semua rumus matematika.
Sekitar empat halaman , Sekolah mulai ramai dengan
teman-teman yang mulai berdatangan.
satu persatu
teman mulai memenuhi ruang
kelas kami.
"Ai Vidi.
macamnya tidak seperti biasanya datang awal begini" sindir Yuni sang ketua kelas dengan wangi parfum vanilla
yang begitu tajam.
" Tidak
apa-apa to Riska, sesekali datang awal dulu, kan ujian to mungkin Minggu depan
tida lagi ba" Jawabku sambil
membuka lembaran berikutnya.
ketika jam
menunjukkan pukul 07:00 kami pu berdoa sebagai rutinitas pagi sebelum memulai
KBM.
saya dengan serius
berdoa
" Allah bapa Pencipta
Langit dan Bumi, rasa syukur kembali ku sampaikan kepadamu karena berkat mu
yang begitu luar biasa hari ini. Terimakasih
aku masih bernafas dan boleh memulai hari yang unik ini. kiranya berkatmu turun
kepadaku yang sedang berletih lesu dan berbenan berat, agar hari ini bisa dilalui dengan penuh cinta
damai dan kekuatan. Utuslah Roh kebijaksanaan keatas ku agar dalam ujian nanti
aku bisa menyelesaikan soal soal dengan teliti dan benar. Namamu yang Kudus
akan tetap ku puji kini dan selamanya amin"
setelah berdoa
secara individu Aku kembali melanjutkan membaca sisa catatan itu demi menghafal dan mengerti rumus-rumus yang ada.
waktu berjalan
begitu cepat dan kelas begitu hening tak seperti biasanya, mungkin semua teman
kelas sedang melawan rasa takut dan kecemasan. Karena sistem pendidikan kita
yang menjustifikasi seseorang akan dikatakan bodok jika nilai matematikanya
jelek.
Pak Maxi pun masuk ke kelas. Yuni berdiri dan
memberikan salam.
“siap hormat....!
“selamat pagi pak,
selamat pagi teman-teman” jawab kami semua dengan wajah tegang.
“Selamat pagi anak-anak,
silahkan duduk”
Selamat kamu semua
duduk, dan pak mulai membacakan absensi kehadiran. Setelah itu perlahan beliau mulai
membagikan lembaran soal, jawaban dan dua lembar kertas cakaran. Tubuhnya yang
kutilang atau kurus tinggi langsing membuat kami tersenyum dengan maksud
menertawakan isi dalam yang ketat dari pa Maxi. Dua jam berlalu dengan
ketegangan, semua soal Aku kerjakan dengan penuh penghayatan dan penuh konsentrasi.
Tak ada satupun soal yang ku lewatkan. Semua soal ku kerjakan dengan senyum
karena sebagian besar soal yang keluar telah ku pelajari pada buku catatan tadi.
Selesai ujian Aku kembali beroda dalam
hati tanpa menandai diri dengan tanda salib.
hari itu dilalui
dengan cinta dan rasa gembira, meski sempat dihampiri masalah pagi tadi. 12:45
bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran
telah selesai. Aku membereskan semua
buku agar peristiwa pagi tadi tak terulang kembali. langkah kaki yang ringan
menuntut ku kembali dengan senang, meski siang itu begitu terik,matahari serasa
berada diatas kepala. Aku mendengarkan
lagu Ende Marilonga detu ge. meskipun tak mengerti dengan liriknya, setidaknya
bisa menenangkan hati dan pikiranku yang cukup lelah hari ini.
Setibanya di Asrama,
ku dapati lemari yang terbuka berserakan. Dompet beserta seisi lemari tertumpuk
kumuh di dalamnya. Bahkan seragam yayasan yang baru dicuci untuk digunakan
besok tergeletak kotor dengan bekas sepatu begitu jelas. Rasa lapar bercampur
emosi kembali bertamu di tubuh yang rapuh setelah Aku mengetahui uang hasil
usaha pangkas rambutku dicuri sebesar Rp 75.000.000
padahal uang
tersebut akan aku gunakan untuk membayar
pesanan buku yang ku beli secara online di aplikasi Lazada.
Aku tak lagi berkata-kata dan marah, hanya bergumang
pasrah dan bertanya pada Tuhan cobaan
apa yang sedang ku hadapi. Namun kehilangan ini ku refleksikan sebagai karma
kerena tadi meninggalkan Kapela sebelum misa selesai. Dan juga karena kelalaianku sendiri yang tidak mengunci
lemari karena terburu-buru ke sekolah. Aku langsung merapikan kembali lemari
dengan membisu. Kehilangan barang di Asrama sudah menjadi problem biasa karena
faktor kebutuhan mendesak seperti uang sabun yang belum di kirim oleh orang
tua. Begitulah suka duka tinggal bersama dan jauh dari orang tua, mau mengeluh,
namun itu tidak membantu, mau lapor ke suster kepala asrama, pasti kena marah
karena tidak waspada karena tidak waspada, semuanya serba salah.
setelan selesai
membereskan lemari, Aku langsung beranjak tidur karena kenyang dengan semua
masalah hari ini.
"Vidi, Vidi
hogo, Tait sembayang Rosario"
“Vidi,Vidi bangun
kita dia Rosario"
Aku dibangunkan
oleh Eman Kaka Asmara yang berasal dari Adonara tepatnya desa Hinga, untuk doa
Rosario sore jam 18:00. Setelah berdoa, kami pun langsung makan malam dan
belajar.
setelah belajar ekonomi untuk persiapan ujian besok, handphoneku
bergetar dengan noifikasi pesan WhatsApp.
dengan antusias Aku
membuka pola handphone dan langsung membuka WhatsApp, dengan harapan pacarku ngechat.
Namun semua itu jauh dari ekspektasi, ada nomor baru yang mengirimkan pesan.
"Vidi, ini
dengan Pak Maxi. besok pagi, setelah doa ke ruangan pak "
Singkat jelas dan
menakutkan.
Perasaanku mulai
amburadul, antar cemas dan takut. Dengan saksama aku menelusuri jejak kesalahan
yang mungkin pernah ku lakukan.
Malam itu aku tak bisa tidur dan terus
kepikiran dengan chatting dari guru matematika itu, lantaran selama ini pa Maxi
tak pernah mengin pesan melalui WhatsApp, bahkan komunikasi formal di sekolah
hampir jarang karena relasi antara kami sekelas dengan dia juga kurang baik
lantaran telah terkubur sugesti dalam diri kami tentang kejamnya beliau.
Besoknya, selesai
doa pagi aku bergegas ke ruangan pa Maxi dengan langkah kaki yang berat rapuh
penuh keraguan sambil berdoa bapa kami, dalam Maria yang tidak jelas.
"selamat pagi
pa" bunyi ketukan pintu di iringi dengan suara gemetar tak jelas.
"Selamat pagi
Vidi. silahkan duduk "
"Sebelumnya
maaf pak, apakah saya ada kesalahan, atau nilai matematika saya buruk?"
tanya saya to the point dengan wajah berseri sambil membunyikan jari jari
tangan penuh keringat.
"Pagi anak,
pa minta Vidi kesini dengan maksud..." Jawaban itu terhenti.
“Jam pertama akan
dimulai dalam lima menit” ternyata suara pemberitahuan dari tim kurikulum
melalui pengeras suara yang terhubung pada speaker di setiap ruangan . Belum sempat mengetahuinya jawaban itu,
jantungku seperti mempercepat detaknya.
setelah selesai
pemberitahuan tersebut pa Maxi Pu melanjutkan tujuannya memangil ku.
"selamat
Vidi, kamu sangat berubah kali ini, pa tak menyangka bahwa pencapaian mu bisa seperti ini. nilaimu kali ini lebih
tinggi dari 19 temanmu" tutur pa Maxi dengan senyuman yang lebar dan
legah.
“apa? Yang bener
saja pak?” mukaku langsung segar seperti tumbuhan di Nita. seketika itu juga aku
berdiri dan langsung meyalim tangan hitamnya dengan hati yang dihujani
kegembiraan. Senyuman tak bisa saya sembunyikan. Hari itu menjadi hari
istimewa, rasanya seperti Minggu keluar
bagi anak-anak asrama yang menjadi hari yang dinanti-nantikan. Rasanya memang
tidak percaya namun setelah pak Maxi menunjukkan angka 98 padaku aku langsung percaya. Kepalaku yang
sedari tadi sibuk mencari kesalahan,
jantungku yang berdetak kencang, dan tanganku yang dingin merinding seketika
kembali semula seperti biasanya. Hati gembira berbunga-bunga hari itu menjadi
peristiwa penting dalam sejarah hidupku, pasalnya selama ini aku di dianggap
kurang mampu khusus pada mata pelajaran matematika.
Setelah semingu
melangsungkan ujian akhir semester, hari pembagian raport pun tiba. Tidak pernah terlintas di benakku adalah aku
juara satu kelas pada semester itu. Tak mau terlalu bereforia, aku langsung
memberitakan kabar baik itu kepada keluarga di kampung. Bagiku hal itu layak
kudapatkan karena kerja keras, disipin serata keaktifan ku di dalam kelas baik
di bidang akademik maupun non akademik.
Setelahnya mukaku
diselimuti gelap, mataku suram suram terbuka, kepala melengking, kudengar suara yang tak asing memanggilku,
Vidi? Vidi? rasa
bagaimana anak?
tanya Suster
Agusta mama Asrama kami yang sudah 5 jam menemani ku di rumah sakit St Gabriel
Kewapante,
“Mama suster,
kenapa saya punya badan luka semua? Kenapa saya di rumah sakit?”
“tadi tadi sore
sekitar jam enam Vidi ditabrak orang, di depan gerbang asrama” jawab suster
penuh kelembutan tak seperti biasanya.
“Mama suster, maaf
tadi saya tidak ikut doa sore, dan bolos dari asrama tanpa ijin, saya lapar dan
lambung jadi saya mau ke kios untuk beli roti” pintaku sambil kurasakan jarum infus
yang mengenai tulang tangan kiri ku.
“Tidak apa-apa
anak, intinya Vidi selamat dan tidak cedera berat, hanya luka ringan”
Ternyata sedari
tadi aku hanya berimajinasi dan bermimpi. mungkin karena faktor insiden sore
tadi yang menyebabkan benturan pada kepalaku dan efek obat bius yang membuatku tertidur begitu pulas, sampai-sampai semua masa-masa indah dan hari-hari
yang istimewa terbayang jelas dalam benakku.
Aku memanggil suster Agusta dengan suara yang lemah dan rendah, untuk membantu
membangunkan ku agar bisa sandaran. Suster Agusta bersama perawat membantu
mengangkat tubuhku dan meletakkan bantal pada area kepala agar aku nyaman
sandaran pada tempat tidur besi. Aku
diberikan segelas air hangat untuk
menenangkan pikiran, namun gerimis jatuh
dari mataku. dalam diam dan hening aku tersenyum bangga dengan peristiwa dalam
mimpiku tadi. Kulihat tanganku dipenuhi perban luka, badanku mati rasa, kepalaku
pusing mungkin karena pendarahan. Pada
moment itu aku berusaha kuat untuk tidak menangis. apa yang kurasakan mungkin
masih jauh lebih sakit dari apa yang dirasakan orang tua di kampung. Mereka
mungkin tidak makan demi kebutuhan ku dan ke empat saudariku dipenuhi. Kurasakan
kerinduan yang tenggelam pada luka luka leban, ingin rasanya dipijat mama,
mendengarkan dongannya dan mencucipi sup kelor nya, seperti biasa ia lakukan
ketika aku sakit di kampung. Namun aku harus mampu menerima kenyataan ini, aku
sedang di tanah orang.
Aku berusaha
membaringkan tubuh sendiri, mencoba mulai tenang dan kembali tertidur karena
jarum jam menunjukkan pukul 23:35
Dalam kelemahan
aku menandai diri dengan tanda salib
“syukur dan terimakasih padamu Tuhan, yang telah
memberikanku kesanggupan, kedua orang tua,
teman-teman dan orang orang yang begitu
hebat dan tulus, yang selalu membantuku
terimakasih untuk proses yang luar biasa ini. datanglah padaku yang sedang
berletih lesu dan berbeban berat. Yah bapa
semoga malam ini aku bias membayar rindu dengan Ayah dan ibu walau hanya
lewat mimpi,
Amin. Dalam nama
bapa dan pura dan roh kudus amin”
lampu ruangan pun dipadamkan, dan aku dihantar
menuju nyenyak oleh suara jarum jam yang berdetak menghitung takdir.
Sudah hampir dua
tahun Aku tinggal di Maumere. Disini aku menemukan kehidupan yang berbeda, adat
yang begitu kaya dengan sistem patriarki yang sama seperti adat Lamaholot kami,
Bahasa yang baru dengan logat yang beragam serta kehidupan yang keras, aku telah mengerti tentang kerasnya hidup
sendiri di lingkungan yang baru, susahnya berjuang tanpa teman yang sejalan,
pahitnya jauh dari orang tua apalagi saat aku sakit dan dalam masa masa sulit,
namun karena ijasah, karena ingin berbenah, karena ingin berubah, karena ingin
mandiri dan membuktikan kepada keluargaku bahwa aku bisa menjadi
lebih baik tak seperti dulu waktu masih di kampung. Alasan itulah yang menjadi landasan kuat mengapa
aku harus kuat, tetap bertahan, dan
harus mampu ciptakan perubahan.
terimakasih
maumere, telah mengajarkan ku tentang kerasnya hidup, pahitnya berjuang sendiri
bahkan saat titik terendah, namun menurutku begitulah seninya dari hidup, jika
memilih pilihan yang gampang maka kita akan hidup dalam kesulitan, namun, jika
kita memilih pilihan pilihan yang sulit kita akan berusaha dan berubah.
aku telah memilih pilihan yang sulit untuk bersekolah
di Maumere, jauh dari keluarga dengan lingkungan yang baru. namun, itu menjadi satu pilihan yang baik dan dapat
merubah dan membentuk karakter ku bisa menjadi manusia yang berusaha, dan
menghargai setiap momentum di hidup ini.
Bagiku dewasa
bukanlah pencapaian melainkan suatu proses yang harus diimbangi dengan doa, dan
usaha, jika jatuh, bangkit dan jagan ragu, untuk melangkah maju, jika Lelah, tetap tabah, jika ada masalah, jangan
sembunyi dan lari.
ingat kita memang dari kampung tapi buktikan bahwa
kita bukan kampungan, balas dendam paling bermartabat hanyalah dengan karya
bukan sekedar kata kata, tetap obati perih itu dengan rapih, jagan biarkan
orang mengetahui bahwa kau sedang rapuh. satu hal yang harus kamu ingat adalah
kamu punya mimpi!
Karena, SETELAH BADAI PASTI TERBIT PELANGI!
TAMAT

Komentar
Posting Komentar