Mitologi manusia berbulu

 "SIBENI BUNU KIWO DAN PAKE WAE HOLO MENGU"

(Tugas bahasa Indonesia, cerita hikayat)

Sepenggal kalimat di atas merupakan satu cerita rakyat dari sekian banyak cerita masyarakat Lewohala 

yang ditutur dan diceritakan secara lisan dari generasi ke generasi.

namun seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan kehidupan manusia, dan seiring bertambahnya Akulturasi di kehidupan sehari-hari menyebabkan memudarnya kearifan lokal masyarakat ileape ape yg dipengaruhi berapa faktor.

Pada abad ke 21 ini para pemuda, anak-anak bahkan balita sekalipun sudah di suguhkan teknologi ( handphone) yang akan membentuk otaknya menjadi seseorang yang akan berpikir instan.

maka di sini saya akan menceritakan satu cerita mitologi kuno dari masyarakat adat Lewohala.

**


Pada suatu Masa yang diperkirakan pada zaman Neolitikum awal, hiduplah seorang manusia pribumi pria yang bernama "SIBENI BUNU KIWO" Pria ini disebut juga merupakan manusa purba bersejarah yang hangat dibicarakan dan di ceritakan dalam buku buku sejarah, karena perawakan pria ini tinggi berbadan besar, rahang yang besar, badan sedikit bungkuk, badan di penuhi dengan bulu bulu, dan memiliki kuku kaki dan tangan yang sangat panjang. ciri ciri ini seperti manusia purba Homo erectus.

SIBENI hidup sendirian tanpa pakaian dan hidupnya bergantung pada alam dan lokasi tempat tinggalnya adalah "Ili Lolo ( perbukitan), ia mendapatkan makanan dengan berburu dan melaut, hasil tangkapannya dimakan mentah karena pada zaman itu belum ada yang menemukan api. dia memanfaatkan kuku-kuku nya untuk merobek dagin dagin tersebut.


"Contoh" perawakan SIBENI BUNU KIWO
    


 Suatu ketika ketika pada pagi pagi buta SIBENI berangkat ke laut. Sesampainya di Laut, SIBENI dengan mudah mendapatkan ikan karena pada zaman itu segala hasil alam sangat berlimpah ruah. 

ketika SIBENI pulang, ia melihat sesuatu yang aneh di puncak gunung.

hal itu membuat rasa ingin tahunya bergejolak karena bapa yang dilihatnya itu benar benar aneh,

SIBENI mempercepat langkahnya kakinya ke gubuknya untuk mengambil tuak (minuman alkohol asli dari pohon Koli) yang disimpan di dalam Nawik ( wadah menyimpan tuak yang diperbuat dari bambu) untuk dijadikan bekal perjalanan menemukan hal misterius tersebut.


 Sesampainya di puncak gunung, matanya menggambarkan kegembiraan, senyumnya tampak tampak meski ditutupi bulu. SIBENI tak berani mendekat. Ia melihat ada bayak bidadari cantik yang sedang mengelilingi api yang membuat dia penasaran tadi. itu merupakan satu perjuangan yang membuahkan 2 hasil.

karena perawakannya sedikit aneh, SIBENI pun meras malu dan bersembunyi di satu pohon yang bernama pohon "Rama" Pohon yang cukup besar ukurannya.


malam semakin larut, tiba tiba terdengar suara langkah kaki dari arah Utara hutan, sepertinya ada sekelompok orang yang mendekat.

SIBENI melihat dengan cermat, matanya tertuju kepada 4 orang laki laki pendek berpakaian dari kulit kartu yang memikul hasil buruan seperti Babi hutan, musang, rusa, kambing dan lain lain. namun si ujung bayangan mereka tiba tiba terlalu cahaya bulan memantul pada kedua bola matanya. terlihat seorang perempuan yang sangat cantik, kecantikannya mengalahkan semua bidadari tadi, dan sepertinya dia merupakan pemimpin dari mereka semua.

wanita rupawan itu bernama "PAKEWAE HOLO MENGU" 


 Ketiak PAKEWAE mendekati lokasi api, ia merasakan sesuatu yang aneh, dan iapun berkata

"Tanah bele nepa be woung koi?" 

(siapa tamu baru itu?)

namun bidadari-bidadari tadi menjawab

"Tea dela Noe kame ala Meha heno" ( tidak dari tadi hanya kami saja yang berada disini)

kata PAKEWAE kepada mereka lagi,

"Mio GE mari hama nepa, ro go koi Remi hala me no atadike oho" ( kalian memang berkata demikian, tetapi saya merasa disekitar sini ada orang lain 

sontak SIBENI mulai panik dan menahan nafasnya.


PAKEWAE mulai mengendus enduas layaknya anjing untuk mencari sumber bau tadi.

dan hasil pencariannya berakhir dibawah pohon Rama.

kata PAKEWAE

" moke heku mrelolo" (kamu siap diatas sana?)

"goke SIBENI BUNU KIWO" jawab SIBENI sambil sesekali tercengang!

"Moke lodo" ( turunlah) ajak PAKEWAE,

"Go lodo pe go matai wai" (. Mungkin saya turun saya pasti meninggal) jawab SIBENI semakin ketakutan.

ajakan yang sama terus dilantunkan PAKEWAE namun. selalu ditolak.

sampai yang ke empat kalinya si PAKEWAE Pu berkata degan nada suara yang cukup tinggi

"Moke matai di moke lodo, moke mori di moke lodo"

(kamu mati juga harus turun, kami hidup juga harus turun) sontak bentakan itupun membuat situbuh berbulu tadi ketakutan dan akhirnya ia memutuskan untuk turun dri persembunyiannya.


setelah turun mereka semua berkenalan dan makanan makanan hasil buruan tadi dan diminum dengan Tuak putih perbekalan SIBENI namun PAKEWAE TDK meminum . karena efek dari alkohol tersebut semua orang mabuk dan tertidur pulas. 

melihat semua orang tertidur pulas dan PAKEWAE memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencukur bulu badan dan kuku-kuku SIBENI. setelah dicukur Habsi, dan karena udara puncak gunung yang dingin SIBENI pun bagun dan mendapati dirinya sudah berubah.

ia sontak marah besar dan memutuskan untuk pulang.

namun PAKEWAE memarahinya dan meminta maaf.

"go kaike" ( saya pulang!) kata SIBENI dengan nada suara yang rendah

"mo Maik jadi hala" ( kamu tidak bisa pulang) 

"go kaike" ( saya harus pulang) 

"mo Maik jadi hala tite Rua ha weki" ( kamu tak bisa pulang, Kita akan menikah) suar PAKEWAE seakan mencekam dan membunuh rasa amarah SIBENI.


SIBENI BUNU KIWO DAN PAKE WAE HOLO MENGU pun menikah 


    lanjut part 2

     

       Oleh:Vidi making 

        Sumber cerita: Laurensius Luwu Tedemaking



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Osis bukan sekedar organisasi osis lebih dari itu (cerpen)

Cerpen berdasarkan realitas "MIMPI SEPERTI PELANGI"

Tersesat di tanah mahar kuda (cerpen)