Asal dan usul suku TEDEMAKING

 SUKU TEDE ATU LOLON

LUWO DORA BIKO LANGUN....

Watu kmote ( batu congklak) Milik Suku tede making watu kmote yg diperkirakan berumur ratusan tahun


Suku tedemaking ini berdiam di sebuah tempat yg di beri nama : MITA ROTA GUMA GOLE (adalah sebuah gua) di pinggiran kampung adat Lewohala saat ini.

Seiring berjalannya waktu,lama kelamaan mereka berpindah dari gua tsb dan membuat hunian atau tempat tinggal di lewohala lolo melu,tanah wuring lamabura,yg adlah lewohala hari ini.

Mula mula,hiduplah sepasang suami istri yg bernama : PAYONG GILI EME dan SIBA PEGA BENI.Perkawinan keduanya melahirkan putra pertama bernama : PAYONG GILI EME (Jr).Mereka hidup berdampingan dgn bahagia,hari hari hidup keluarga ini di lalui begitu harmonis,penuh kasih sayang.Tanpa di sadari,Payong Gili Eme sementara menjalin hubungan gelap dengan adik kandung dari Siba Pega Beni.Keharmonisan keluarga inipun berubah menjadi tragedi memilukan hati Siba Pega Beni,sang istri yg begitu setia. Adapun nama istri kedua ini adalah : SIBA PEGA HURA. Di saat bersamaan,lahirlah jg anak kedua Mama Siba Pega Beni,nama anak ini adlah HURA PAYONG GILI.Suatu ketika,berangkatlah Payong Gili Eme dan istri pertamanya ke kebun kacang ijo,lokasinya bernama : TOLO ALE (area di bawah kampung).Sebelum berangkat ke kebun bersama anak pertama mereka,mama Siba berpesan kpd adiknya,yg adlah istri ke dua dr suaminya itu,katanya : "tolong petah (belah dan cincang) Hura (ubi hutan)dan masak agar kita bisa makan setelah kami pulang sore nanti. Entah apa yg merasuk hati istri ke dua ini, dia lalu memenggal dan mencincang anak kedua dari kakanya Siba, dia masak sampai matang dan siap di hidangkan, apabilah suami dan kakanya pulang. Sore hari Payong dan istri beserta anakpun bergegas pulang ke gubuk. Setibanya di gubuk, Mama Siba berkata kepada adiknya (istri ke dua)...di mana anak itu,biar saya tete dulu...jawabnya "anak" itu saya titip di rumah tetangga ( di ulang sampe 3x).Dan yg ke 4x nya dia menjawab : kita makan dulu baru saya jemput untuk di susui.

Setelah makan, Mama siba suru lagi untuk menjemput  anak itu ,dia menjawab " ana ko go ihi menu woi" (anaknya telah dimasak dan diminum bersama) waha koi beh ana enenge muri....sontak kaget bercampur marah dan sedih...Mama siba mulai tak tentram hatinya ketika berada di antara suami dan istri selir suaminya,walau itu adlah adik kandungnya sendiri. Hari hari hidupnya hanya merenung nasip, dan duka yg tiada tara ini.

Iapun memutuskan untuk minggat dari rumahnya sendri, akhirnya dia memilih hidup sendiri tanpa suami dan org lain, cuman berteman dg anak pertamanya iapun mulai keluar rumah. Karena ketiadaan tempat untk berteduh dan bernaung, maka iapun memutuskan untuk bernaung di bawah pohon besar dan lebat,pohon tersebut  adlah RITA PUKE (bawah pohon rita).Hari hari di lalui dg penderitaan karena hidup tanpa suami.Payong Gili eme sll menangis mencari ayahnya,dan untuk menghibur anak itu,ia mencari akal untuk membuat kemote (congklak) dengan cara melobangi batu besar dengan tangannya yang ada di bawah pohon Rita itu. Karena awal dari kisah pilu dan getirnya hatinya,Ia lalu berpesan kepada anaknya,katanya : "Andai engakau besar nanti,maka jgn coba coba pulang ke Ayahmu...dan apabila engakau dewsa dan menikah nanti,buatlah rumahmu sendiri,dan rumahmu diberi sebutan : "TEDEMAKING WATU KEMOTE"........!!!!!!!!

Sekian dan trimaksih....

Sumber cerita: Laurensius Luwu Tedemaking

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Osis bukan sekedar organisasi osis lebih dari itu (cerpen)

Cerpen berdasarkan realitas "MIMPI SEPERTI PELANGI"

Tersesat di tanah mahar kuda (cerpen)