Puisi untuk kekasih
sajak yang cacat
dibawah rembulan yang terang,
ada mimpi di kemudian hari.
mimpi ini begitu pedih,
ada ketakutan dari ini yg ingi ku gapai,
namun diterjal badai.
aku tak mau mimpiku cacat,
juga dengan peninggalan ku
akan terus ku raawat dan tak pernah untuk karat.
ada saja mimpi yg gratis,
tanpa ada kesan anarkis,tragis bahkan menangis.
di lorong lorong tanya aku bersuara,
menyapa!
namun tak ada jawab dari bahasa yg meminta.
redup nya rembulan membuat ku berpikir bahwa hidup ini juga kadang harus gelap,redup dan terang.
berlari ingi pergi dari ini,
dia yang di balut tanya tentang siapa?
ada sebab dari akibat yang lebat.
berbaris rapi di belakang gubuk,
mimpi meletup, ekspresi terlalu risih sampai ia katakan nanti.
aku terlalu rapuh menuggu,
kau terlalu cepat menghilang seperti kilat.
**
sajak ku cacat, tak bisa menceritakan habis terang angan kita, namun kau terlalu cepat terpaku dalam ragu,
aku tak sempat menjadi laki laki sejati seperti sinetron di tv.
aku tak sempat meminta maaf,
dengan parasmu yang terus menjadi candu di setiap canda.
aku tak sempat melekat dalam pekatnya malam,
menyeduh kopi yang teduh di waktu yang lumpuh.
aku tak sempat pamit dari cerita yang rumit.
aku belum Mecari mu, namu kau terlalu egois akan cinta ini sampai aku baru memulai, kamu sudah mengakhiri Tampa sebab.
satu saja yang ingin ku katakan
"aku tak berotot tapi aku berotak, yang buruk cuman rupaku tidak dengan rasaku. kekasihku.
agar adil, aku tetap mencintaimu sedangkan engkau tetap mencintai dia bagaimana?
"Jagan terlalu terbelenggu dengan isi puisi ini yang terkesan romantisme, namun puisi ini saya peruntukan bagi teman-teman yang ibunya sudah mendahului kita"
Komentar
Posting Komentar