Cerpen (realita kehidupan)

           Aku dan tanya


situasi siang itu sangat angkuh, panas mentari menusuk peluh,kehendak hati menyuruh pergi mencari ilmu dan inspirasi.

lagkalah kaki sesuai naluri

berjalan dengan kebisingan dan telinga ini tak lagi sanggup untuk mendengar,sedangkan mulut tak mau bersuara.

isi kepala memberontak menyuruh cepat,sedangkan jemari kaki dibawah meminta maaf untuk melangkah.

duduklah saya dibawah pohon asam,cukup luas untuk berteduh.

seketika Kotak(hp) ku berdering,tak mau untuk mengambil tapi biarlah sedikit melepas bosan.

"SEGERA MELAKUKAN PEGISIAN ULANG AGAR NOMOR ANDA TETAP AKTIF"

hati pun sedikit tersanjung.

awalnya melepas bosan,kini beban datang singgah.

kaki pun kini kembali restui isi kepala.

hendak Bagun,kotakku pun kembali meminta ku agar memegangnya lagi,tak mau lagi sakit hati saya hendak membiarkannya,namun biarlah sedikit lagi duduk agar nanti bisa lebih lama untuk berjalan.

tangan pun mulai memeriksanya teryata ada ajakan berkumpul untuk mengekspor ilmu.

dengan keras kepala saya pun berdiri dan sedikit agak berlari agar cepat sampai.

**

dalam perjalanan aku sengaja mampir di kios sembako milik kakek yang telah renta dari Jawa.

"halo?"

"Iyah!" 

suaranya sudah tak jelas didengar, mungkin karena faktor usia.

"kek, beli kopi yang 3, lima ribuh tu"

"uhuk uhuk, kopi habis anakkkk"

"oh. kalau begitu biar top cofe saja kek"

saya mencoba melihat jauh ke isi dalam kios.

"ini anak, uang pas to?" 

kakek bertaya soalnya dia sering ditipu oleh anak seumuran saya.

"Iyah kakek, uang pas, permisi dulu"

saya bergegas ke rumah Brian, teman kelas saya di sekolah yang sering membantu saya namun saya sering tak suka dengan hobinya.

letak geografis kabupaten kami membuat cuaca begitu panas, serasa seperti cerita di neraka.

lucunya di pinggir kota hutan hutan mulai ditebang demi memperbaiki wajah kota yang sudah lama begitu begitu saja.

miris sih, kota saya. Sebatas kota tanpa ada bukti fisik bahwa itu adalah kota.

kaki beralaskan sendal swalow pun tetap saja terasa panas.

poster poster di pinggir jalan begitu banyak. 

di simpang lima tengah kota yang sebetulnya menjadi sentral wajah kota malah dijadikan tempat ternak kambing.

kambing hitam itu terlihat kepanasan, tanpa ada orang yang memberinya air atau memindahkan di tempat teduh. 

wajahnya menggambarkan kepedihan, entah karena suara bising kota, atau asap motor yang tak bisa di hindarkan atau karena cuaca yang sangat panas.

saya tergerak melihat kambing betina itu yang mungkin sedang mengandung, mencoba membuka lilitan tali dan menariknya ke bawah pohon beringin yang menjadi pohon sejarah di kota kami dan tidak berani ditebang oleh kontraktor jalan karena memiliki nilai mistis dan mitologi.

lalu si pemilik kambing datang dengan muka yang cukup seram dibasahi keringat dengan baju kuning di badannya, coblos no 99.

"siang om, saya baru saja melepaskan kambing ini, dia terlihat kepanasan makanya saya pindahkan, sekalian saya juga mau istirahat sambil melihat lihat batu bersejarah ini"

"ohh makasih Ama(sebutan untuk anak lelaki), om mereka baru Habis pertemuan jadi terlambat kasi pindah, kambing itu juga sedang hamil jadi terimakasih eh," 

senyum pun mulai terpancar di muka om berkumis itu.

"ama mau kemana?"

"mau ke rumah Brian mereka ada ajak kumpulan, mungkin diskusi tentang tugas karya ilmiah di gang sebelah"

"Terus di kantong tu apa Ama"

"ini top kopi om, supaya diskusi lebih relaks to om"

"terus buku?"

"saya lupa bawa om"

"kalau begitu kita ke rumah ambil uang sekalian antara Ama di sana to"

"aii terimakasih banyak om"

om kumis pun mengikat kambing itu dan memberinya makan daun beringin kering.

saya pun dibelikan buku seribuan berjumlah 3 buah dan satu pulpen hitam.

"terimakasih om sudah antar dan beli kasi saya buku"

sambil menjaba tangannya, dan om kumis itu bernama om max.

"siang bro"

saya pun mengetuk pintu depan.

"masuk saja bro" jawab Brian dari dalam kamarnya dengan suara yang cukup berisik.

sudah banyak kepala yang menunduk,sektika saya dengan nada canda menegur mereka kawan sadarlah......

Rasa terusik,karena suara saya berisik,seseorang dari mereka membuang ludahnya.saya sempat terkaget,namun mungkin air ludahnya sudah penuh.

"Anji#*g, kiri kiri....."

"Cok Cok sini sini sini, kil kil, ahhhhh Ko#+0l"

saya pun merasa terganggu mendengar suara suara peluru.

"bro ada kopi ni" 

mereka masih saja sibuk dengan handphone masing-masing. saya pun dengan antusias memutar kopi dan menyuguhkan di tengah tengah kami.

"minum eh bro" salah satu dari mereka menyeduh kopiku dan memuntahkan di jendela.

"phee,, kopi apa ni, rasa ke Ba#$! sah"

Brian sontak melihat saya sambil memberi kode untuk sabar.

"oh maaf bro kopinya sa tida bawah dari kampung, tapi saya beli di kota bro"

"Wii kopi su kadaluarsa ni lew"

"buat buat sekali Gus" 

tegur Brian sambil melihat ke arahku.

saya mencoba mencairkan situasi dengan memutar lagu daerah, eh malah di ejek oleh teman yang sama.

"bro tugas KIR(karya ilmiah remaja) bagaimana?"

 tanya saya sambil mematikan lagu dan mengambil buku.

"aii kami sementara push rank ni bro sabar e"

saya pun merasa kecewa melihat mereka sibuk dengan handphone, menghela nafas dalam-dalam dan mulai menulis tentang cerita ini.

-tamat-


"mohon maaf apabila didalam cerita pendek ini terdapat kesamaan nama tokoh, namun semua situs dan kondisi ini nyata dan pengelaman diata merupakan peristiwa nyata, hanya diberi polesan unsur-unsur cerpen. semoga terhibur."

nantikan part 2nya

      

    karya: Fredinandus Sili making (Vidi)

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Osis bukan sekedar organisasi osis lebih dari itu (cerpen)

Cerpen berdasarkan realitas "MIMPI SEPERTI PELANGI"

Tersesat di tanah mahar kuda (cerpen)