Cerpen Aku dan tanya part 2
kedua mata saya terus saja memantau di setiap sudut ruangan, ada puntung penyesalan, dan kasur yang telah lusuh tak dicuci.
saya masih saja bertengkar dengan inspirasi di kepala, mungkin karena kurang referensi.
mencoba berulang ulang menuliskan tentang pengelaman hari ini di buku yang diberikan om max tadi siang.
"bro ko sibuk k?"
tanya Brian sambil meletakkan handphonenya di sebelah gelas kopi.
"tidak bro"
jawab saya sambil merobek hasil coretan saya tadi.
"bisa bantu saya ka bro, Pi beli roko di kios depan tu biar pake motornya Rikar."
"oh oklh bro sekalian saya juga mau cari angin segar di luar, duduk di sini juga bosan lihat kalian terpaku dengan kesibukan masing-masing ni"
saya setuju untuk ke kios membeli rokok mengunakan motor Rikar yang cukup sinis setelah mendengar sindiran saya dalam konteks bercanda.
saya mengambil kunci yang digantung di pintu lemari dekat poster bertuliskan no smoking, entah apa maksudnya saya Kurang mengerti soal bahasa asing. Dengan motor Revo injeksi laju motor cukup pelan sambil melihat lihat cewek cantik yang duduk dipinggir jalan.
karena terlalu fokus melihat ke arah perempuan, saya hampir saja ditabrak oleh om max yang membawa serta makanan ternak di belakang Motornya.
"Ama mau kemana? pakai Rikar Pu motor ni?"
"Ai bapa kenal k?" saya menjawab sambil mengangkat motor yang kelihatan tergores di bagian bodi belakang.
"Rikar tu om punya anak Ama"
saya terkejut dan seketika diam membisu tanpa suara.
"Ama mau kemana? Jo Rikar Ama ketemu di mana? kamu kerja tugas sama sama k?"
dengan spontan saya menjawab
"Iyah om, saya minta bantuan Rikar untuk kerja saya punya tugas jadi saya disuruh untuk membeli es kelapa di dipan toko yang selalu laris tu"
raut wajah om max PU seketika tersenyum sambil mencoba menyalakan motornya.
"ohh Bae sudah Ama, tadi juga dia izin Pi kerja tugas jadi om pikir dia tipu Pi main game di teman tapi Bae su, hati hati Ama, jalan pelan pelan"
"baik om"
saya dengan rasa bersalah telah menipu om max yang notabene si beliau sudah membatu saya meski belum terlalu akrab.
saya melanjutkan perjalanan ke kios untuk membeli rokok.
"beli apa no?" sang pelayan kios bertanya dengan gigi depan yang sudah hilang namun dia sangat percaya diri.
"toko Surya 5 ribu Kaka"
"ohh ok diks...."
saya dengan santainya meraba-raba isi saku celana yang kosong. sepertinya uangnya jatuh waktu tadi hampir di tabrak.
"aii kaka minta maaf uangnya jatuh"
saya sedikit panik karena hari ini saya begitu sial.
mencoba untuk melihat lihat di sepanjang jalan sambil berdoa meminta tuntunan.
saya pulang ke rumah Brian dengan tangan kosong,. Tampa rokok dan motor yang lecet.
"aii bro Jagan marah ee, sa tidak beli rokok soalnya uangnya jatuh di jalan tadi"
Rikar dengan spontan menggeser kopi sampai tumpah menggambarkan dia sedang marah.
saya dengan jujur berkata kepadanya
"bro jangan marah juga ko Pu motor lecet tadi saya hampir tabrak satu om"
segala bentuk cacian dilontarkannya dengan nada yang keras.
situasi kamar sangat mencekam dan saya tak tahan lagi berada di dalamnya. sontak saya terdiam dan mereng, bahwa saya sudah membantu dia membanggakan dirinya di hadapan bapaknya. tapi biarlah berbuat baik tak harus di ceritakan.
Rikar langsung keluar dari kamar dan melihat si Revo nya.
"aiii ko keluar anak kampung"
saya menjawab dengan nada rendah,
"sya kah..."
"nko k, keluar sudah"
saya dengan ragu melangkah maju menemuinya.
sontak kepada saya langsung terasa pusing terbentur oleh benda keras.
saya sontak tak menyadarkan diri.
saya seperti bermimpi melihat kakek saya yang berpesan, Vidi ingat tetap rendah hati dan Jagan sombong. setelah itu seketika saya berada di dalam rumah sedang mengerjakan tugas namun di panggil oleh ibu untuk memberi makan sapi di kebun, saya dengan pasrah mengambil parang dan menuju ke kebun dengan berjalan kaki.
"bangun, bagun. Vidi.... bangun"
ternyata saya sudah di rumah sakit dengan perban di kepala. saya tadi hanya bermimpi.
saya langsung bertanya kepada Brian,
"bro sa knp?"
"tadi Rikar emosi makanya dia pukul nko dgn kayu di kepala"
"dan dia sekarang dimana bro, sa harus minta maaf dlo"
tanya saya sambil melihat lihat di ruang rumah sakit.
"om max ada pukul dia setelah kami jadi tau om max bro"
saya terdiam dan merenung, mungkin dia sudah mengetahui kebenarannya bahwa saya membelanya di depan ayahnya, dan yang menabrak motonya adalah om max yang notabene adalah ayah kandungnya.
-tamat-
dari cerita pendek diatas kita bisa mengambil 1 pelajaran penting bahwa, ketika kita menyalakan seseorang melakukan kesalahan, pastikan kita juga tidak pernah berbuat salah, dan coba meyelesaikan dengan kepala yang dingin. Terkadang situasi juga yang membuat kita berbohong maka "kebenaran adalah kebohongan yang direkayasa"
Karya: Fredinandus Sili making (Vidi making)
nantikan part 3
Komentar
Posting Komentar